Sabtu, 08 Juni 2013

BENARKAH PROF. QURAISH SHIHAB ITU AGEN SYI'AH?

Kitab “Tafsir Al-Mishbah” yang berjilid-jilid itu adalah salah satu karya monumental dari seorang tokoh Islam Indonesia, Prof. Dr. H. Muh. Quraish Shihab, yang diterima oleh :
▬ umat Islam yang tidak hanya di dataran Indonesia, 
▬▬ tapi juga di Asia Tenggara secara umum. Bahkan beliau ditahbis sebagai ahli tafsir terkemuka masa kini, di kawasan Asia Tenggara. 

Selain itu 
buku “Membumikan Al-Qur’an” juga merupakan satu di antara sekian banyak karya beliau yang luar biasa. Dengan deretan karya yang beliau telurkan, sangatlah pantas jika ia sebagai tokoh ulama masa kini yang dielu-elukan oleh masyarakat Indonesia dan Asia Tenggara.

Namun dengan ketokohan serta ilmu yang beliau miliki tak membuatnya menjadi manusia ma’sum alias terlepas dari salah dan dosa. Tidak membuat kita bertaqlid buta kepada seluruh pendapatnya. Hanya nabi yang dijaga oleh Allah subhanahu wa ta’ala dari salah dalam menyampaikan risalah yang diemban olehnya. 

Kita mestinya bersikap :
▬ adil dan inshof 
▬▬ dalam mengambil pendapat dan perkataan manusia,

seperti 
yang diucapkan oleh Imam Malik, Semua perkataan bisa diterima dan ditolak, kecuali penghuni kubur ini (Pusara Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam).


► Agen Syiah ?

Syiah, sebagaimana kita yakini bersama sebagai aliran pemikiran dan akidah dalam Islam. Jika tidak disebut sebagai aliran sesat maka minimal yang kita sepakati adalah sebagai salah satu sekte dari sekian banyak sekte yang memecah persatuan umat.

Majelis Ulama Indonesia, dalam fatwanya tentang Syiah 1984 telah menyebutkan bahwa yang terjadi antara Islam (Ahlus Sunnah wal Jamaah) dan Syiah adalah perbedaan-perbedaan pokok yang dalam fatwa tersebut ditelurkan dalam lima poin.

Banyak kalangan yang menyebut Bapak. Prof. Quraish Shihab sebagai agen Syiah, namun secara pribadi beliau menolak tuduhan itu dalam pengantar buku Buku Putih Mazhab Ahlul Bait, ABI, Cet IV, hal xv, “Ketika ada sebagian anggapan orang bahwa pak Quraish itu Syiah, saya tegas menolaknya. Penolakan saya disebut Syiah bukan karena ikut pendapat bahwa Syiah itu sesat, tetapi karena saya tahu siapa yang dimaksud Syiah, saya sangat memahami siapa yang pantas disebut Syiah.”


Bukti-bukti nyata dukungan terhadap Syiah 
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ 

1•► Tulisan Quraish Shihab dalam buku Satu Islam Sebuah Dilema, penerbit Mizan, Cet VII, Juni 1994, hal 122,

“Ada juga pengelompokan-pengelompokan seperti Ahlussunnah waljamaah, Syiah dan sebagainya. Wallah, semua mengaku Ahlussunnah waljamaah. Apalagi kita di Indonesia, lebih sempit lagi. NU menganggap hanya kelompoknya yang Ahlussunnah waljamaah. Ya Akhi, kita semua Ahlussunnah Waljamaah. Semua kita, baik Muhammadiyah, NU, maupun Syiah.”

Bagi kita yang mendengar ini tentu saja akan bertanya-tanya, 
▬ rumusan apa yang beliau pakai dalam memasukkan Syiah ke dalam Ahlussunnah?, 
▬▬ terlebih MUI telah menyebutkan perbedaan-perbedaan pokok antara Ahlussunnah Wal Jamaah dengan Syiah tahun 1984.

2•► Buku Sunnah-Syiah Begandengan Tangan! Mungkinkah ?, Kajian Atas Konsep Ajaran dan Pemikiran. Prof. Quraish Shihab dengan sekuat tenaga berusaha menanamkan kepada kaum Muslimin bahwa perbedaan antara Sunnah dan Syiah itu meskipun ada tapi tidak prinsipil, tidak menyangkut akidah. Seperti ungkapannya dalam hal. 93,

“Tauhid pada prinsipnya adalah keesaan Tuhan dalam sifat, perbuatan, dan Dzat-Nya, serta kewajiban mengesakan dalam beribadah kepada-Nya. Dalam butir-butir makna Tauhid di atas, tidak dijumpai perbedaan prinsipil antara Ahlussunah dan Syiah, walau harus digarisbawahi bahwa kelompok Syiah, dalam hal sifat Tuhan, lebih cenderung sependapat dengan Mu’tazilah.” (Penerbit Lentera Hati, Cet III, Juni 2007)

Padahal 
buku ini sudah dibantah oleh para ustaz dari Pondok Pesantren Sidogiri dengan buku yang berjudul, “Mungkinkah Sunnah-Syiah Dalam Ukhuwah; Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab” Buku ini mengungkap data-data asli dari kitab induk dan muktabar Syiah yang (sengaja) tidak dikutip oleh Prof. Quraish Shihab dalam bukunya tersebut, sehingga membuat kesimpulan yang tidak semestinya, seperti ungkapan beliau, “Tidak dijumpai perbedaan prinsipil antara Ahlussunah dan Syiah.”

3•►Buku karya Prof. Quraish Shihab, “Perempuan, Dari cinta Sampai Seks, Dari Nikah Mut’ah sampai Nikah Sunnah, Dari Bias Lama sampai Bias Baru”, hal. 187-212 membahas mengenai hukum nikah mut’ah. Kesimpulannya berbunyi sebagai berikut ini,

“Anda telah membaca di atas tentang pendapat yang berbeda menyangkut mut’ah –kehalalan atau keharamannya serta syarat-syaratnya. Masing-masing mengemukakan alasannya sehingga ulama sepakat menyatakan bahwa nikah mut’ah yang memenuhi syarat-syaratnya tidak identik dengan perzinaan. Kita juga dapat berkata bahwa, seandainya alasan ulama Syiah diakui oleh ulama sunnah, tentulah ulama sunnah tidak akan menyatakan haramnnya mut’ah, demikian juga sebaliknya, seandainya ulama Syiah puas dengan alasan-alasan kelompok ulama sunnah, tentulah mereka tidak menghalalkannya. Namun, kalau hendak menempuh jalan kehati-hatian, tidak melakukan mut’ah jauh lebih aman ketimbang melakukannya –kendati Anda menilainya halal- karena tidak ada perintah, bahkan anjuran, untuk melakukannya. Kalau hendak menempatkan perempuan dalam kedudukan terhormat, tentu seseorang pun tidak akan rela melakukan mut’ah. Lalu, yang tidak kurang pentingnya adalah kalau hendak meraih kesucian jiwa, menghindari sedapat mungkin panggilan debu tanah –seperti makan, minum, dan hubungan seks- merupakan jalan mendaki yang wajar ditempuh.” (Penerbit Lentera Hati, Cet III, April 2006)

Meskipun ungkapan ini cukup bijak, namun sayangnya tidak tegas. Bandingkanlah dengan sikap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai manusia, aku pernah membolehkan kamu melakukan (nikah) mut’ah dengan wanita. Kemudian Allah telah mengharamkan hal itu sampai hari kiamat. Oleh karena itu, jika masih ada yang memiliki wanita yang diperoleh melalui jalan mut’ah maka hendaklah ia melepaskannya dan janganlah kamu mengambil sedikitpun dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka.” (HR. Muslim)

Tentang pelarangan Umar di masanya adalah karena masih ada beberapa orang yang tidak mendengar Sabda Nabi di atas, sehingga mengira bahwa mut’ah itu masih boleh dalam keadaan darurat dan melakukannya di masa Abu Bakar dan Umar. Dengan ketegasan yang beliau miliki, Umar kembali menegaskan sabda Nabi di atas. (Al-Majmu’, An-Nawawi)

4•►Kata Pengantar Prof. Quraish Shihab yang berjudul, “Kesefahaman, Urat Nadi Persaudaraan Islam” dalam buku “Buku Putih Mazhab Syiah” yang diterbitkan oleh Tim Ahlul Bait Indonesia. Pada hal xix Bapak Prof. Quraish Shihab mengatakan, “Sejatinya kita adalah saudara dan tidak perlu saling menimbulkan ketegangan. Surga terlalu luas sehingga tidak perlu memonopolinya hanya untuk diri sendiri.” (Penerbit DPP Ahlul Bait Indonesia, Cet IV, Desember 2012)


Keempat pernyataan di atas, terutama yang pertama dan terakhir, serta fakta-fakta lain yang tidak sempat kami tuangkan di sini merupakan bukti tentang :
▬ beliau yang pro terhadap tumbuh dan berkembangnya sekte Syiah di Indonesia dengan konsep kesefahaman, 
▬▬ padahal ini sangat bertentangan dengan Keputusan Muktamar Doha tahun 2007 poin no. 7 yang beliau kutip sendiri dalam bukunya, “Sunnah-Syiah Begandengan Tangan! Mungkinkah?, Kajian Atas Konsep Ajaran dan Pemikiran”, hal 268, “Mengajak para pemimpin dan tokoh rujukan agama dari kalangan Sunnah dan Syiah agar tidak mengizinkan adanya penyebaran tasyayyu’ (paham-paham Syiah) di negeri-negeri (penganut aliran) Sunnah, tidak juga penyebaran tasannun (paham-paham khas sunnah) di negeri-negeri (penganut aliran) Syiah, demi menghindari kekacauan dan perpecahan antara putra-putri umat yang satu (umat Islam).”

Walhasil, 
▬ apakah Prof. Quraih Shihab itu benar agen Syiah atau bukan ? 

Andalah yang berhak menyimpulkan! 
Semoga pemaparan ini bisa dijadikan bahan perenungan kita. 
Wallahu a’lam!

(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)

22 komentar:

  1. @lippimakassar anda selalu memfitnah Ust Qurais Shihab...pertanyaannya : Apakah ilmu anda lebih baik dari beliau ? apa saja yang sudah anda sumbangkan dalam dunia Islam...? apakah anda orang yang paling benar ? saya rasa anda terlalu subyektif dalam menilai seseorang..kemampuan anda hanya sebatas mem-posting artikel dangkal yang hanya akan membuat perpecahan keyakinan diantara umat islam..

    BalasHapus
  2. @ andy : kami juga bertanya kepada antum dari sudut pandang mana antum melihatnya ?? antum bertanya apa yg sudah di sumbangkan ... antum sendiri apa yg sudah antum sumbangkan ???... pembahasan di atas sebuah kritisi yg di keluarkan oleh beliau Bapak. Prof. Quraish Shihab, kami kutip artikel di atas "beliau miliki tak membuatnya menjadi manusia ma’sum alias terlepas dari salah dan dosa. Tidak membuat kita bertaqlid buta kepada seluruh pendapatnya. Hanya nabi yang dijaga oleh Allah subhanahu wa ta’ala dari salah dalam menyampaikan risalah yang diemban olehnya"

    wallahua'alam

    BalasHapus
  3. Namun dengan ketokohan serta ilmu yang beliau miliki tak membuatnya menjadi manusia ma’sum alias terlepas dari salah dan dosa. Tidak membuat kita bertaqlid buta kepada seluruh pendapatnya. Hanya nabi yang dijaga oleh Allah subhanahu wa ta’ala dari salah dalam menyampaikan risalah yang diemban olehnya.

    Kita mestinya bersikap :
    ▬ adil dan inshof
    ▬▬ dalam mengambil pendapat dan perkataan manusia,

    seperti
    yang diucapkan oleh Imam Malik, Semua perkataan bisa diterima dan ditolak, kecuali penghuni kubur ini (Pusara Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam).

    BalasHapus
  4. Jika ini artikel ini benar maka ini benar maka inilah kebenaran, tapi jika salah maka andalah yang petama harus bertanggung jawab atas artikel yang kemungkinan akan berubah jadi fitnah yang melebar kesana kemari,

    jika memang anda sendiri belum pasti tahu kebenarannya, maka andalah salah seorang yang memecah belah islam.

    BalasHapus
  5. sy tidak memihak kmn pun, kl pun artikel ente bener, Apa iya Rasul SAW pernah melakukan tindakan seperti ente? - Mencoba membeberkan atau bisa di bilang langsung menuduh d publik seseorang yang menurut ente bukan satu faham dengan ente.
    Syiah itu sebuah ajaran, dan yang perlu kita hindari itu ajarannya bukan orangnya. kalo mang ilmu ente tinggi harusnya ente bs ngajak atau meyakinkan orang yg dah terbawa syiah kembali pada syariat seharusnya.

    BalasHapus
  6. Yang komentar ribut antara pembela aliran saudi dengan non saudi. Padahal di atas jelas maksud quraish shihab adalah memang dia bukan syiah, dia hanya mencoba menjembatani antara orang2 yang ribut antara suni n syiah, supaya ga usah ribut, jalan aja dengan masing2 kepercayaannya.. Susah ya buat kalian untuk tidak menghakimi orang lain...? Daripada sibuk nyari kesalahan orang mending kita masing2 sibuk ngumpulin pahala aja yukkkk

    BalasHapus
  7. Mana pendapat saudi dan non saudi disini? dr atas smp bawah yg di bahas sunnah dan syiah? knp anda mnyimpulkan dng ksimpulan yg dangkal sprt itu,? sungguh orng yg mengerti Aqidah yg bnr tdk akan mempersamakan suni-syiah,, amal dr orang yg aqidahnya nyimpang itu tdk akan berguna,, belajarlah wahai ummat islam, sblum kejadian iraq, yaman, dan Suriah menimpa negerimu ini,,, jangan buta

    BalasHapus
  8. Sudah jelas yang terjadi di Suriah adalah perang antara Syiah dan Sunni. Sudah jelas aqidah suni - syiah itu beda, masih saja mau berusaha menjembatani antara keduanya. Nggak bakalan bisa, pasti "crash" !

    BalasHapus
  9. Belajar Bro..... @ Andi jangan2 ente syiah... sampai kapan aqidah syiah itu sesat... dan bukan islam...

    BalasHapus
  10. Sampai kapanpun syiah itu SESAT.... dan bukan ISLAM

    BalasHapus
    Balasan
    1. ==== Bahaya Mengkafirkan Sesama Muslim ===

      “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca (menghafal) al-Qur’ân, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’ân dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari al-Qur’ân, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik”. Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai nabi Allâh, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”. Beliau menjawab, “Penuduhnya”. (HR. Bukhâri dalam at-Târîkh, Abu Ya’la, Ibnu Hibbân dan al-Bazzâr. Disahihkan oleh Albani dalam ash-Shahîhah, no. 3201).

      ==============================

      “Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya “hai kafir”, maka ucapan itu akan mengenai salah seorang dari keduanya.” [HR Bukhari]

      ==============================

      Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Ra, bahwa Nabi SAW bersabda:

      “Bila seseorang mengkafirkan saudaranya (yang Muslim), maka pasti seseorang dari keduanya mendapatkan kekafiran itu. Dalam riwayat lain: Jika seperti apa yang dikatakan. Namun jika tidak, kekafiran itu kembali kepada dirinya sendiri”.[HR Muslim]

      Dari Abu Dzarr Ra, Nabi SAW bersabda:

      “Barangsiapa memanggil seseorang dengan kafir atau mengatakan kepadanya “hai musuh Allah”, padahal tidak demikian halnya, melainkan panggilan atau perkataannya itu akan kembali kepada dirinya”.[HR Muslim]

      Kita sesama muslim bersaudara



      ===========
      maaf ini juga pernah ada riwayat waktu Khulafaur Rasyidin . Saat terjadi pemberontakan umat muslim yang salah menafsirkan Al-Qur'an kalau tidak salah zaman khalifah Ali.. Maaaf aga lupa mohon diluruskan jika salah. Dan apa yang sang khalifah katakan ?!?!?!?!

      "Mereka saudara kita, hanya sedikit berlebihan. Dan kita perlu meluruskannya"


      Semoga bermanfaat, jika salah mohon diluruskan. Saya hanya manusia yang tak luput dari dosa :)

      Hapus
  11. baca ini :
    http://myquran.org/forum/index.php?topic=86831.0

    BalasHapus
  12. Quraisy syihab syi'ah, beliau syi'ah
    Memang ga akan ngaku, klo ngaku ntra bukunya ga da yg beli, ntar ga da yg ngundang ke tv, ntar dakwah syiah terselubungnya ga akan mulus lagi.
    Jadi, sampai kapanpun beliau ga akan ngaku klo beliau syi'ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. ==== Bahaya Mengkafirkan Sesama Muslim ===

      “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca (menghafal) al-Qur’ân, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’ân dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari al-Qur’ân, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik”. Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai nabi Allâh, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”. Beliau menjawab, “Penuduhnya”. (HR. Bukhâri dalam at-Târîkh, Abu Ya’la, Ibnu Hibbân dan al-Bazzâr. Disahihkan oleh Albani dalam ash-Shahîhah, no. 3201).

      ==============================

      “Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya “hai kafir”, maka ucapan itu akan mengenai salah seorang dari keduanya.” [HR Bukhari]

      ==============================

      Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Ra, bahwa Nabi SAW bersabda:

      “Bila seseorang mengkafirkan saudaranya (yang Muslim), maka pasti seseorang dari keduanya mendapatkan kekafiran itu. Dalam riwayat lain: Jika seperti apa yang dikatakan. Namun jika tidak, kekafiran itu kembali kepada dirinya sendiri”.[HR Muslim]

      Dari Abu Dzarr Ra, Nabi SAW bersabda:

      “Barangsiapa memanggil seseorang dengan kafir atau mengatakan kepadanya “hai musuh Allah”, padahal tidak demikian halnya, melainkan panggilan atau perkataannya itu akan kembali kepada dirinya”.[HR Muslim]

      Kita sesama muslim bersaudara



      ===========
      maaf ini juga pernah ada riwayat waktu Khulafaur Rasyidin . Saat terjadi pemberontakan umat muslim yang salah menafsirkan Al-Qur'an kalau tidak salah zaman khalifah Ali.. Maaaf aga lupa mohon diluruskan jika salah. Dan apa yang sang khalifah katakan ?!?!?!?!

      "Mereka saudara kita, hanya sedikit berlebihan. Dan kita perlu meluruskannya"


      Semoga bermanfaat, jika salah mohon diluruskan. Saya hanya manusia yang tak luput dari dosa :)

      Hapus
  13. orang2 iran sibuk dg ilmu pengetahuan,, orang2 arab skitarny sibuk mencari perbedaan suni-syiah dan kekayaan... dan akhirnya sibuk berperang sesamanyaa.. bagus www.scrapcine.com

    BalasHapus
  14. nyatanya pemikiran orang2 syiah lebih maju dari sekte2 lainnya.___

    BalasHapus
  15. Tak ada kebaikan sedikit pun yang bisa diharapkan dari kelompok yang menganggap bahwa 99% sahabat Nabi adalah bejat, mengingat hal itu merupakan pengingkaran yang nyata akan sabda Rasulullah.

    BalasHapus
  16. dasar otak otak Wahabi,,,,seumpama orang sunni berpelukan dengan syiah justru itu satu contoh yang amat baik. Bukankah yang dianjurkan ukhuwah bukan pecah belah?Tidak tahu anda dapat ilmu dari mana, dari beli buku dipingir jalan atau mungkin pesantren kilat seminggu dua minggu? atau juga jago ilmu yang baca sana baca sini tapi dengan analisa yang cetek!!!!!!! artikel ini yang sampah dan banyak madorotnya dari pada manfaatnya!!!!!!

    BalasHapus
  17. ==== Bahaya Mengkafirkan Sesama Muslim ===

    “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca (menghafal) al-Qur’ân, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap al-Qur’ân dan dia menjadi pembela Islam, dia terlepas dari al-Qur’ân, membuangnya di belakang punggungnya, dan menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik”. Aku (Hudzaifah) bertanya, “Wahai nabi Allâh, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik, penuduh atau yang dituduh?”. Beliau menjawab, “Penuduhnya”. (HR. Bukhâri dalam at-Târîkh, Abu Ya’la, Ibnu Hibbân dan al-Bazzâr. Disahihkan oleh Albani dalam ash-Shahîhah, no. 3201).

    ==============================

    “Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya “hai kafir”, maka ucapan itu akan mengenai salah seorang dari keduanya.” [HR Bukhari]

    ==============================

    Dari ‘Abdullah bin ‘Umar Ra, bahwa Nabi SAW bersabda:

    “Bila seseorang mengkafirkan saudaranya (yang Muslim), maka pasti seseorang dari keduanya mendapatkan kekafiran itu. Dalam riwayat lain: Jika seperti apa yang dikatakan. Namun jika tidak, kekafiran itu kembali kepada dirinya sendiri”.[HR Muslim]

    Dari Abu Dzarr Ra, Nabi SAW bersabda:

    “Barangsiapa memanggil seseorang dengan kafir atau mengatakan kepadanya “hai musuh Allah”, padahal tidak demikian halnya, melainkan panggilan atau perkataannya itu akan kembali kepada dirinya”.[HR Muslim]

    Kita sesama muslim bersaudara

    BalasHapus
  18. maaf ini juga pernah ada riwayat waktu Khulafaur Rasyidin . Saat terjadi pemberontakan umat muslim yang salah menafsirkan Al-Qur'an kalau tidak salah zaman khalifah Ali.. Maaaf aga lupa mohon diluruskan jika salah. Dan apa yang sang khalifah katakan ?!?!?!?!

    "Mereka saudara kita, hanya sedikit berlebihan. Dan kita perlu meluruskannya"


    Semoga bermanfaat, jika salah mohon diluruskan. Saya hanya manusia yang tak luput dari dosa :)

    BalasHapus
  19. "Penolakan saya disebut Syiah bukan karena ikut pendapat bahwa Syiah itu sesat, tetapi karena saya tahu siapa yang dimaksud Syiah, saya sangat memahami siapa yang pantas disebut Syiah.” Saya pegang ini.... Banyak yang menolak Syi'ah karena ketidaktahuan mereka atas Syi'ah itu sendiri. Imamah, Taqiyyah, Mut'ah, Shalat tiga waktu (biasa dijama), Shalat tanpa sajadah (harus kena tanah)... tidak semua kita faham dengan benar ini semua ....

    BalasHapus
  20. Yang sunni moga aja selamat. Wa syi'i fin naarrrrr

    BalasHapus